|
Tugas 1
1. Terapkan kelima
sumber pengetahuan dalam memecahkan contoh Anda dan berikan alasannya.
Jawab :
5 sumber
pengetahuan adalah :
n - Pengalaman
n
- Otoritas
n
- Berfikir deduktif (Aristoteles)
n -
Berfikir induktif (Bacon)
n -
Berfikir ilmiah (menggabung deduktif dan induktif, Darwin)
Contoh saya adalah prestasi belajar, metode kerja kelompok, metode
ceramah. Prestasi belajar merupakan sumber pengetahuan yang didapatkan oleh
proses pengalaman, Metode kerja kelompok, dan metode ceramah merupakan sumber
pengetahuan yang didapatkan oleh berfikir deduktif dan berfikir induktif. Dalam
melakukan penelitian cntoh tersebut dapat diteliti menggunakan pemikiran
ilmiah.
2. Dalam penelitian
diperlukan teori, apakah syarat teori yang baik dalam contoh di atas menurut
Anda dan berikan alasannya.
Jawab :
Menurut saya teori yang baik adalah teori yang mempunyai syarat
dapat dipertanggung jawabkan.
Teori yang mempunyai referensi dari buku, jurnal, dan artikel yang
mempunyai sumber jelas.
3. Sebagai calon guru,
masalah pendidikan apakah di bidang Anda yang dapat diteliti. Paparkan dan
berikan alasannya.
Jawab :
Masalah
pendidikan yang saya teliti adalah di bidang prestasi belajar yang dihasilkan
dari metode pembelajaran yang berbeda. Alasan saya memaparkan masalah ini karena
ingin membandingkan prestasi belajar antara metode kerja kelompok dan
Metode ceramah.
4. Buatlah
jurnal hasil penelitian pendidikan kejuruan Anda yang dikaji dari skripsi di
jurusan allumni Anda.
TUGAS 3
Sebutkan masalah dalam
pembelajaran dan kaitkan dengan teori pembelajaran yang ada sebagai solusinya
Salah satu masalah dalam
pembelajaran yaitu rendahnya tingkat keaktifan siswa selama proses
pembelajaran. Sebelumnya akan di jelaskan terlebih dahulu mengenai
pembelajaran.
Pembelajaran dalam
pendidikan
Pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar
dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan
tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata
lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat
belajar dengan baik.
Di sisi lain
pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi
sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar
agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai
sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi
perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang
peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai
pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran
menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Pembelajaran yang
berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar.
Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu
memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian
target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan
kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik,
ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan
membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Behaviorisme·Teori
yang berhubungan dengan masalah keaktifan siswa
Behaviorisme berasal
dari kata behave yang berarti perilaku dan isme yang berarti aliran. Secara
etimologi, behaviorisme dapat kita artikan sebagai aliran yang mempelajari
perilaku. Behaviorisme dapat didefinisikan sebagai pendekatan dalam psikologi
yang didasarkan atas proposisi atau gagasan awal bahwa perilaku dapat
dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah.
Karakteristik esensial
dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah pemahaman terhadap
kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilaku seseorang. Fokus
behaviorisme adalah respon terhadap berbagai tipe stimulus. Dalam pendekatan
ini manusia bersifat statis, jadi dia dibentuk oleh lingkungan.
Beberapa tokoh yang
memiliki pengaruh kuat dalam aliran ini adalah Ivan Pavlov dengan teorinya yang
disebut Classical Conditioning, BF Skinner dengan teorinyaOperant Conditioning,
John B Watson dengan teorinya behavioris S-R (Stimulus Respons), dan Edward
Thorndike dengan teorinya Law of Effect.
Keaktifan Belajar Siswa
Usaha meningkatkan
keaktifan belajar siswa didalam kelas sangat penting untuk dilakukan oleh para
guru. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan fokus siswa agar dapat menerima
pelajaran dengan baik. Dengan siswa yang aktif maka fokus mereka terhadap
pelajaran pun akan meningkat sehingga mereka mudah memahami apa yang diberikan
oleh guru. Selain itu, siswa yang aktif dalam pembelajaran akan membuat
pelajaran lebih efektif dan menyenangkan.
Proses belajar mengajar
yang efektif perlu adanya cara berpikir secara terarah dan
jelas akan apa yang dipelajari. Dengan banyak permasalahan-permasalahan
yang muncul, perlu adanya pembaharuan-pembaharuan di lingkungan pendidikan yang
mengarahkan pembelajaran agar siswa dapat selalu aktif. Disinilah
peranan pendidikan memberikan suatu konsep cara belajar yang efektif.
Pendidikan dalam
era modern semakin tergantung tingkat
kualitas. Antisipasi dari para guru untuk menggunakan berbagai
sumber yang tersedia mengatasi permasalahan yang
dihadapi siswa untuk mempersiapkan pembelajaran yang
dapat menumbuhkan keaktifan siswa.
Untuk meningkatkan
keaktifan belajar matematika siswa tidaklah mudah, sebab
dalam kegiatan belajar mengajar di
lingkungan sekolah sering di jumpai beberapa
masalah antara lain : (1) Hampir
tidak ada siswa yang mempunyai inisiatif untuk bertanya
pada guru (kurang aktif bertanya). (2) Sibuk menyalin apa yang di tulis
dan di ucapkan guru. (3) Apabila
ditanya guru tidak ada yang mau menjawab
tetapi mereka menjawab secara bersamaan sehingga suaranya tidak jelas.
(4) Siswa terkadang ribut sendiri waktu
guru menerangkan atau mengajar.
Rendahnya keaktifan
siswa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: 1. Faktor dari guru misalnya
tidak adanya dorongan dan motivasi dari guru untuk membimbing siswa untuk
bertanya atau menjawab pertanyaan. 2. Dari siswa misalnya perasaan takut dan
malu untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan, perasaan tidak PD akan
jawabannya sendiri, dan lain-lain.
Akar penyebab yang
paling dominan menyebabkan ketidak aktifan siswa adalah pada diri siswa
sendiri. Mereka terkadang hanya malu dan takut untuk menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh guru. Ketidakberanian mereka membuat mereka enggan untuk
menjawab ataupun berperan aktif dalam pembelajaran.
Teori Pengkondisian
Klasik (Classical Conditioning) oleh Ivan Pavlov
Teori ini disebut juga
learned reflexes atau refleks karena latihan, sebagian ahli juga menyebutnya
sebagai teori belajar asosiatif. Teori ini ditemukan di dekade 1890-an, namun
baru diterbitkan pada tahun 1927 dalam Conditioned reflexes: An Investigation
of the physiological Activity of the Cerebral Cortex.
a.
Percobaan Pavlov
Percobaan tersebut
dilakukan pada seekor anjing, kegiatannya adalah memberi makan anjing
eksperimen dan mengukur volume air liur anjing tersebut di waktu makan. Setelah
prosedur yang sama dilakukan beberapa kali, ternyata anjing tersebut
mengeluarkan air liur sebelum menerima makanan. Pavlov menyimpulkan bahwa
beberapa stimulus baru seperti pakaian peneliti yang serba putih, telah diasosiasikan
oleh anjing tersebut dengan makanan sehingga menimbulkan respons keluarnya air
liur.
Proses conditioning
biasanya mengikuti prosedur umum yang sama. Misalkan seorang pakar psikologi
ingin mengkondisikan seekor anjing untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar
bunyi lonceng. Sebelum conditioning, stimulus tanpa pengkondisian (makanan
dalam mulut) secara otomatis menghasilkan respons tanpa pengkondisian
(mengeluarkan air liur) dari anjing tersebut. Selama pengkondisian, peneliti
membunyikan lonceng dan kemudian memberikan makanan pada anjing tersebut.
Bunyi lonceng tersebut
disebut stimulus netral karena pada awalnya tidak menyebabkan anjing tersebut
mengeluarkan air liur. Namun, setelah peneliti mengulang-ulang asosiasi bunyi
lonceng-makanan, bunyi lonceng tanpa disertai makanan akhirnya menyebabkan
anjing tersebut mengeluarkan air liur. Anjing tersebut telah belajar
mengasosiasikan bunyi lonceng dengan makanan. Bunyi lonceng menjadi stimulus
dengan pengkondisian (conditioning Stimulus/CS), dan keluarnya air liur anjing
disebut respons dengan pengkondisian (Unconditioning Stimulus/UCS).
b.
Prinsip Pengkondisian Klasik Pavlov
Terdapat empat proses
dalam teori ini, antara lain:
1)
Fase Akuisisi (fase dengan pengkondisian)
2)
Fase Eliminasi (fase tanpa pengkondisian)
3)
Generalisasi
4)
Diskriminasi
c.
Penjelasan Teori Pengkondisian Klasik Pavlov
Teori ini membentuk
perilaku tertentu dengan stimulus tertentu yang pada awalnya tidak menimbulkan
respon apapun. Di dalam teori ini dikenal pula extintion atau pemadaman, yaitu
eliminasi/pemadaman terhadap stimulus dengan pengkodisian yang telah dibentuk sebelumnya,
atau dengan kata lain eliminasi respons kondisi dengan mengulang-ulang stimulus
kondisi tanpa stimulus utama.
Sebagai contoh anjing
yang telah dikondisikan keluar sir liur saat mendengar lonceng, kemudian
diperdengarkan lonceng tanpa diberikan makanan. Prosedur tersebut dilakukan
secara berulang-ulang sehingga akhirnya anjing tersebut tidak akan lagi
mengeluarkan air liur saat mendengarkan bunyi lonceng.
Teori ini lebih tepat
digunakan untuk mahluk hidup yang memiliki perkembangan kognitif belum
optimal/pemikiran yang belum kompleks.
Teori
Pengkondisian Disadari (Operant Conditioning) oleh BF SkinnerØ
Operant conditioning
merupakan suatu tipe belajar yang melibatkan penguatan dan hukuman.
1. Teori Stimulus
Respons oleh John B Watson 2. Hukum Efek dan Teori Koneksionisme oleh Edward
Thorndike
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran
http://media154.wordpress.com/artikel-internet-desain-dan-web-3/ctl-contextual-teaching-
learning/
TUGAS 4
1. Mengajukan judul
penelitian pendidikan 2. Lakukan identifikasi dan pembatasan masalah ! 3.
Mengajukan rumusan masalah dan teori pendidikan apa yang berkaitan untuk
membahas masalah tersebut ! 4. Nyatakan manfaat penelitian anda dan apakah
dampak bila penelitian tersebut berhasil
1. Judul penelitian
pendidikan :
Hubungan Antara Minat
dan Perhatian Dengan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Multimedia Pada Smk
di Jakarta
2. Identifikasi Masalah
dan Pembatasan Masalah - Identifikasi Masalah
Disadari atau tidak,
menurunnya kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama. Walaupun
seorang guru sudah berbuat yang terbaik menurut prosedur yang ada tanpa
dukungan dari berbagai pihak, niscaya tujuan pendidikan tidak akan tercapai
dengan baik. Di sinilah kita perlu memadukan antara faktor lingkungan dengan
faktor alami berupa potensi yang dimiliki anak itu sendiri. Faktor potensi anak
yang tak kalah pentingnya adalah minat belajar anak-anak yang kurang memiliki
minat dalam belajar, maka akan menunjang suatu sikap dan prilaku yang membias
dari anak normal lainnya. Misalnya saja anak sering membolos, tidak antusias
dalam belajar, sering membuat kegundahan dalam kelas, pessimis, agresif dan
sering memberontak. Hal semacam ini akan teraplikasikan pada pencapaian tujuan
pembelajaran yang menurun atau prestasinya menurun.
- Batasan Masalah
Dari identifikasi
masalah yang terpapar di atas diperoleh gambaran dimensi permasalahan yang
begitu luas. Namun menyadari adanya keterbatasan waktu dan kemampuan, maka
penulis memandang perlu memberi batasan masalah secara jelas dan terfokus.
penulis berinisiatif untuk mengkaji lebih mendalam melalui kegiatan penelitian
ini yang erat kaitannya dengan masalah minat dan perhatian belajar anak, dalam
mempelajari mata pelajaran Multimedia yang akan berpengaruh langsung maupun
tidak langsung terhadap prestasi yang dicapainya.
3. Rumusan Masalah dan
Teori Pendidikan Yang Berkaitan dengan Penelitian - Rumusan Masalah
Bertolak dari latar
belakang di atas, maka penulis membatasi diri untuk mengkaji variabel- variabel
yang ada dalam bentuk rumusan masalah yang menjadi fokus perhatian dan
penelitian ini. Adapun rumusan masalah yang penulis maksudkan adalah:
1. Bagaimanakah tingkat
minat dan perhatian belajar siswa, khususnya mata pelajaran Multimedia pada SMK
di Jakarta. 2. Bagaimanakah tingkat prestasi belajar siswa, khususnya mata
pelajaran Multimedia pada SMK di Jakarta. 3. Bagaimanakah hubungan antara minat
dan perhatian dengan prestasi belajar siswa, khususnya mata pelajaran
Multimedia pada SMK di Jakarta
- Teori Pendidikan
Teori pendidikan yang
berkaitan dengan penelitian ini yaitu teori Behaviotistik dimana Teori
Behavioristik merupakan teori dengan pandangan tetang belajar adalah
perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan
respon. Atau dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam
hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon
4. Manfaat
Penelitian dan Dampak Penelitian
- Manfaat Penelitian 1.
Dengan mengetahui tingkat minat dan perhatian belajar siswa menjadi sumber
informasi bagi seorang guru untuk lebih menumbuh-kembangkan minat belajar
siswanya. 2. Dengan mengetahui tingkat minat dan perhatian belajar siswa
menjadi sumber iklim yang kondusif agar anak secara leluasa dapat mengembangkan
minat dan bakat yang dimilikinya. 3. Diharapkan semua dapat lembaga yang
terkait dalam bidang pendidikan agar dapat memperbaiki sistem yang ada supaya
anak dapat mencapai tingkat perkembangan yang optimal. 4. Sebagai salah satu
bahan referensi bacaan yang dapat dijadikan sumber informasi dalam pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengembangkan ilmu pengertahuan dan
teknologi pada umumnya dan penelitian pada khususnya.
- Dampak Penelitian 1.
Untuk mengetahui tingkat minat dan perhatian belajar siswa mata pelajaran
Multimedia pada SMK di Jakarta 2. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar
siswa mata pelajaran Multimedia pada SMK di Jakarta 3. Untuk mengetahui ada
tidaknya hubungan antara minat dan perhatian belajar dengan prestasi belajar
Multimedia pada SMK di Jakarta